Monday 5 January 2009

Busuknya Kebencian

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan”permainan”.
Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa....tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun,selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk,murid-murid mulai mengeluh,apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Gurupun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.
Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya..”

Kebencian hanya akan menimbulkan bau busuk bagi kita kemanapun kita pergi dan akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bergaul. Hilangkanlah kebencian anda terhadap orang lain, karena yang terpenting dalam ajaran Kristus Yesus adalah kasih.

1Kor 13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Berikut beberapa fakta tentang kasih di Alkitab:


1. Kasih melampaui anugerah berkata-kata (gift of tongue).
1 Kor 13:1 “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

Paulus adalah seorang yang pandai berkata-kata, namun dia sadar bahwa kasih melebihi itu. Sekalipun seseorang mampu berkata-kata dalam banyak bahasa, ataupun memiliki suara seperti malaikat, atau sekalipun seseorang mampu berpidato, ataupun bahkan berkotbah demi nama Tuhan sekalipun, kalau tidak ada kasih maka ia sama seperti gong yang berkumandang dan canang yg gemerincing. Maksudnya apa? Tanpa kasih maka semua kata-kata itu tidak akan menyenangkan hati Tuhan. It is the charitable heart, not the voluble tongue, that is acceptable with God.

2. Kasih melampaui pengetahuan (knowledge).
1 Kor 13:2a “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan;”

Disini dikatakan bahwa meskipun seseorang memiliki anugerah bernububat (menyingkapkan hal-hal yang misteri) ataupun seseorang itu memiliki hikmat, atau kepintaran yang sangat tinggi, pengertian akan Firman Tuhan yang banyak (doctrine), tapi tanpa kasih itu tidak ada artinya. It is not great knowledge that God sets a value upon, but true and hearty devotion and love.

3. Kasih melampaui iman
1 Kor 13:2b “dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Didalam Markus 11:23 dikatakan bahwa jika memiliki iman yang benar maka gunung pun bisa dipindahkan. Namun demikian, hal yang terlihat hebat menurut manusia ini, termasuk juga melakukan banyak pekerjaan-pekerjaan besar didalam nama Yesus, meskipun itu semua berhasil dimata manusia, tetapi Tuhan melihat itu semua kosong. Moving mountains is a great achievement in the account of men; but one dram of charity is, in God's account, of much greater worth than all the faith of this sort in the world.

4. Kasih melampaui pekerjaan baik (outward acts)
5. Kasih melampaui penderitaan yang kita terima (suffering)
1 Kor 13:3 “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

Disini Paulus mengingatkan seringkali kita menolong, melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial seperti kerja bakti, melakukan banyak aktifitas dalam pelayanan, mengeluarkan segala tenaga, pikiran, bahkan sampai rela berkorban, menderita bagi melakukan pelayanan, tapi kalau kita tidak memiliki kasih yang sejati maka semuanya itu sia-sia.

Lebih dalamnya lagi, bluntly speaking, ketika kita mati dalam mengabarkan injilpun tetapi tidak ada kasih didalam kita maka sia-sialah itu semua.

Inilah pesan pembukaan dari paulus mengenai pentingnya kasih. Lalu sekarang pertanyaannya kasih yang bagaimana? Diatas telah dijawab secara singkat maksud dari kasih yang sejati, kasih yang benar menurut Firman Tuhan. Kasih yang bukan saja kepada manusia atau Tuhan saja tapi kasih kepada Tuhan (worship) dan manusia (serve God). Seperti ada tertulis dalam alkitab "Kasihilah Tuhan Allahmu" dan juga tidak melupakan "Kasihilah sesamamu manusia”.

Ngerikah kita melihat pesan paulus ini? Mari kita mengkoreksi hidup kita, apakah kita memiliki kasih yang sejati? Kasih yang benar dihadapan Tuhan? Benarkah hidup kita sudah mencerminkan kasih agape dr Tuhan? Benarkah kasih kita sudah memberikan buahnya seperti yang terdapat dalam bagian ke dua dari surat paulus ini (ayat 4-7) ? Kiranya segala kemuliaan bagi Tuhan kita Yesus Kristus, Juruselamat yang hidup.
(PauH.bspt.c)




Selengkapnya...

Ilmu Alam & Tuhan

Posting:Raymond Skywalker
From : Azallea Lesmana

"Mari kujelaskan tentang masalah Yesus Kristus dari segi ilmu alam." Seorang profesor filosofi ateis berhenti sejenak di depan kelasnya dan kemudian meminta salah seorang muridnya untuk berdiri.
"Bukankah kau seorang Kristen, Nak?"
"Ya, Pak," jawab murid itu.
"Jadi kau percaya akan adanya Tuhan?"
"Tentu saja."
"Apakah Tuhan itu baik?"
"Tentu! Allah itu baik."
"Apakah Tuhan berkuasa? Mampukah Ia melakukan segala hal?"
"Ya."
"Apakah kau baik atau jahat?"
"Firman Tuhan berkata aku seorang yang jahat."
Professor itu tersenyum lebar dengan penuh arti. "Aha! Firman Tuhan!" Kemudian dia merenung sejenak.
"Mari kuberikan satu contoh untukmu.


Katakan ada seseorang yang sedang sakit saat ini dan engkau dapat menyembuhkan dia. Kau dapat melakukannya. Apakah kau akan menolongnya? Apakah kau akan mencoba?"
"Ya, Pak, saya akan mencobanya."
"Jadi kau adalah orang baik...!"
"Saya tidak akan mengatakannya seperti itu."
"Tetapi mengapa tidak? Kau akan mencoba menolong seorang yang sakit dan menyembuhkannya jika kau mampu. Kebanyakan dari kita akan berbuat hal yang sama. Tetapi Tuhan tidak."
Murid tersebut tidak menjawab, sehingga professor itu melanjutkan, "Bukankah begitu? Saudara lelaki saya adalah seorang Kristen yang mati karena kanker, walau pun ia berdoa kepada Yesus dan memintaNya untuk menyembuhkan penyakitnya. Bagaimana mungkin Yesus itu baik? Bisakah kau menjawab pertanyaan ini?"
Murid itu tetap diam.
"Tidak, kau tidak bisa menjawabnya, kan?" tanya si professor. Ia menenggak minumannya sembari memberikan muridnya sejenak waktu.
"Mari kita mulai lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?"
"Ehhmm...ya," jawab murid itu.
"Apakah iblis itu baik?"
Tanpa keraguan, murid tersebut menjawab "Tidak."
"Jadi, dari mana iblis berasal?"
Murid itu tertegun sejenak. "Dari..Tuhan..."
"Benar. Tuhan menciptakan iblis, bukan? Katakan kepadaku, Nak, adakah iblis di dunia ini?"
"Ada, Pak."
"Iblis ada dimana-mana, bukankah begitu? Dan Tuhan menciptakan segalanya, benar?"
"Ya."
"Jadi, siapa yang menciptakan iblis?"
Sekali lagi, murid itu tidak menjawab.
"Adakah sakit penyakit? Immoralitas? Kebencian? Keburukan? Semua hal yang jelek, apakah semua hal itu nyata di dunia?"
Murid itu mulai menggeliat gelisah. "Ya."
"Jadi, siapa yang menciptakan semua hal tersebut?"
Si murid tidak menjawab lagi, sehingga professor mengulangi pertanyaannya.
"Siapa yang menciptakan semua hal itu?"
Tetap tidak ada jawaban
Tiba-tiba, professor itu berdiri berjalan di depan kelas. Seluruh kelasnya terdiam.
"Katakan padaku," ia melanjutkan kepada murid yang lain. "Apakah kau percaya pada Yesus Kristus, Nak?"
Jawaban muridnya mengejutkan dia, "Ya Professor, saya percaya."
Professor itu berhenti berjalan. "Ilmu alam mengatakan bahwa kau mempunya lima indra untuk mengidentifikasi serta mengobservasi dunia di sekitarmu. Apakah kau pernah melihat Yesus?"
"Tidak, Pak. Saya belum pernah melihat Yesus."
"Lalu katakanlah kepada kami semua, apakah kau pernah mendengar Yesus berbicara?"
"Tidak, Pak. Belum pernah."
"Apakah kau pernah merasakan Yesus, mencicipi Yesus, mencium bau Yesus? Apakah kau pernah menggunakan indramu untuk Yesus Kristus, atau Tuhan?"
"Tidak Pak. Saya khawatir tidak pernah."
"Namun, kau masih percaya kepadaNya?"
"Ya."
"Menurut aturan empiris, pengujian dan pendemonstrasian ilmu alam, Tuhan itu tidak ada. Apakah argumentasimu mengenai hal ini, nak?"
"Tidak ada," jawab murid itu. "Saya hanya berpegang pada iman."
"Ya, iman," professor itu mengulangi. "Dan itulah masalah antara ilmu alam dengan Tuhan. Tidak ada bukti, hanya iman."
Murid tersebut berdiri diam sejenak, sebelum melontarkan suatu pertanyaan kepada professor.
"Professor, apakah ada sesuatu yang disebut panas?"
"Ya," jawab sang professor. "Ada sesuatu yang disebut panas."
"Dan adakah sesuatu yang disebut dingin?"
"Ya, Nak. Dingin itu juga ada."
"Tidak, Pak.. tidak ada."
Professor tersebut berpaling untuk memandang wajah muridnya, tiba-tiba tertarik dengan pendapatnya. Ruangan menjadi hening seketika. Si murid pun mulai menjelaskan.
"Anda bisa memiliki berbagai macam panas, lebih panas, super panas, sangat panas, sedikit panas, atau tidak panas sama sekali, tetapi kita tidak memiliki apa yang disebut 'dingin'. Kita bisa mengucapkan 458 derajat di bawah nol, yang bukan panas, tetapi kita tidak bisa pergi lebih jauh dari itu. Tidak ada hal yang disebut dingin; kalau tidak, kita bisa mencapai suhu dingin lebih dari -458 derajat. Anda lihat, Pak, dingin hanyalah suatu kata yang kita gunakan untuk menjelaskan absensi dari panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas bisa diukur dalam unit thermal karena panas itu adalah energi. Dingin bukan panas, hanya absensi dari panas."
Keheningan melingkupi seluruh ruangan. Pena yang jatuh pun terdengar seperti dentuman palu.
"Bagaimana dengan kegelapan, professor. Apakah kegelapan itu ada?"
"Ya," professor menjawab tanpa keraguan. "Apakah malam jika tidak gelap?"
"Anda salah lagi, Pak. Kegelapan bukanlah suatu hal, itu adalah absensi dari suatu hal. Anda bisa memiliki sedikit cahaya, cahaya normal, cahaya terang, cahaya yang menyilaukan...tetapi jika Anda tidak mempunyai cahaya secara konstan, Anda tidak memiliki apa-apa dan itulah yang disebut gelap, bukankah begitu? Itulah artinya ketika kita menggunakan kata gelap. Pada kenyataannya, gelap tidak ada. Jika ada, Anda mungkin untuk membuat gelap menjadi lebih gelap lagi, bukan?"
Professor itu tersenyum kepada muridnya. Semester ini akan menjadi semester yang menyenangkan.
"Jadi, apa yang kau maksudkan sebenarnya, anak muda?"
"Ya, professor. Maksud saya adalah, pandangan filosofis Anda salah dari mulanya, sehingga kesimpulan Anda pun salah."
Sang professor tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya, "Salah? Bisakah kau menjelaskannya mengapa itu salah?"
"Prinsip pandangan Anda berbasis pada dua hal, dualisme," lanjut murid tersebut. "Anda berargumentasi bahwa ada kehidupan, dan kemudian ada kematian; Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Pandangan Anda berdasarkan bahwa Tuhan itu sesuatu yang bisa diukur. Ilmu alam pun tidak mampu mengukur atau menjelaskan suatu pikiran. Ilmu alam menggunakan elektrik dan magnet, tetapi masing-masing pun tidak dapat sepenuhnya dimengerti, bahkan salah satu. Untuk melihat kematian adalah lawan dari kehidupan merupakan keacuhan pada fakta bahwa kematian itu tidak dapat dikatakan nyata secara substansial. Kematian hanyalah absensi dari kehidupan."
"Sekarang, katakan padaku, professor. Apakah Anda mengajarkan semua murid-murid Anda bahwa mereka berevolusi dari kera?"
"Jika kau mengacu pada proses evolusi alamiah, anak muda, ya, tentu saja."
"Pernahkah Anda melihat dengan mata kepala sendiri proses evolusi tersebut, pak?"
Professor menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum, mulai mengerti arah pembicaraan muridnya.
Sungguh, semester yang menyenangkan.
"Bukankah Anda mengajarkan pendapat Anda, pak, ketika tidak seorang pun pernah melihat sendiri ketika proses evolusi itu berjalan dan tidak dapat membuktikannya bahwa proses itu masih berjalan? Jika demikian, bukankah Anda adalah seorang pengkhotbah dan bukan ilmuwan?"
Seluruh kelas mulai bergemuruh. Si murid di depan tetap diam sampai seluruh kebisingan itu hilang.
"Untuk melanjutkan pandangan Anda sebelumnya terhadap murid yang lain, perkenankan saya memberikan contoh dari apa yang saya maksudkan."
Murid itu melihat sekeliling ruangan kelas. "Apakah ada di antara kalian yang pernah melihat otak professor?" Seluruh kelas tertawa. "Apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar otak professor, menyentuh, mencium bau otak professor? Tampaknya tidak ada yang pernah melakukan hal itu. Maka, berdasarkan aturan protokol secara empiris dan demonstrative, ilmu alam berkata Anda tidak mempunyai otak, dengan segala hormat, pak. Jadi, jika ilmu alam mengatakan Anda tidak mempunyai otak, bagaimana kami dapat meyakini ajaran Anda?"
Seluruh kelas pun hening. Professor tersebut hanya memandang wajah muridnya, dengan mimik yang tidak terbaca.
Akhirnya, setelah beberapa lama terdiam, professor itu menjawab, "Saya kira, kau hanya memerlukan iman untuk itu."



Selengkapnya...

Saturday 3 January 2009

Jadilah Seperti Rio!

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Lukas 18:17)


Kisah dimulai dengan hasrat Rio yang amat besar untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Tetapi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai keinginannya. Selain itu ibunya yang sedang sakit membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya.

Setelah mempertimbangkan cukup lama, dengan iman Rio memutuskan diri untuk menulis surat kepada Tuhan:


Kepada Yang Terhormat
Tuhan di sorga

Tuhan, namaku Rio. Aku ingin meneruskan sekolahku, tetapi orang tuaku tidak mempunyai uang. Ibuku juga sakit, sehingga biaya keperluan rumah tangga kami menjadi semakin meningkat.

Tuhan, aku membutuhkan uang


Rp 200.000 untuk membeli obat ibuku, Rp 200.000 untuk membayar uang sekolahku, Rp 100.000 untuk membayar seragamku, sedangkan Rp 100.000 untuk membayar harga buku-bukuku. Jadi jumlah uang yang aku butuhkan dari-Mu saat ini hanya Rp 600.000 saja.

Terima kasih, Tuhan. Aku akan menantikan uang kiriman-Mu dengan sabar.

Dari Rio


Rio segera pergi ke kantor pos untuk mengirimkan suratnya. Membaca alamat yang tertulis di sampulnya, petugas kantor pos merasa iba sekali, sehingga ia tidak tega untuk mengembalikan surat itu kepada Rio. Bingung menentukan apa yang harus ia lakukan, akhirnya petugas kantor pos tersebut menyerahkan suratnya ke kantor polisi di seberang jalan.

Membuka dan membaca isi surat tulisan Rio, komandan polisi pun menjadi terharu sekali. Ia menceritakannya kepada seluruh anak buahnya. Lalu bersama-sama mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan uang bagi Rio. Setelah dihitung, ternyata dana yang berhasil mereka kumpulkan hanya berjumlah Rp 540.000 saja.

Sang Komandan menyelipkan uang itu ke dalam sebuah amplop, dan menulis di sampulnya: "Untuk Rio, dari Tuhan di sorga". Lalu ia memerintahkan bawahannya untuk mengantar dan menyerahkan bingkisan kecil tersebut secara pribadi kepada Rio.

Ketika menerima dan menghitung jumlah uang yang diterima olehnya, di samping merasa senang karena permintaannya telah dikabulkan oleh Tuhan, Rio merasa sangat tidak puas. Ia mengambil secarik kertas, lalu menulis surat lagi kepada Tuhan:

"Tuhan, lain kali kalau Engkau mengirimkan uang kepadaku, jangan lewat polisi dong. Karena uang kiriman-Mu sudah dipotong 10 persen oleh mereka. Rio"

RIO REALLY ROCKS!

Kata iman dan definisinya sering kali menjadi sebuah tema perbincangan orang-orang kristiani, yang oleh karena pengertiannya terlalu dipersulit, bisa berubah menjadi sebuah tema perdebatan yang tak berguna bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi jika sudah berbentuk debat kusir mengenai tema-tema yang berhubungan dengannya. Khususnya: Mujizat, ... mulai dari kesembuhan-kesembuhan adikodrati sampai hal-hal supranatural lainnya! Padahal menurut Alkitab, iman itu sebenarnya sederhana sekali!

Injil-Injil Matius, Markus dan Lukas menceriterakan sebuah kejadian yang yang sama, di mana Yesus memakai seorang anak kecil yang masih murni imannya sebagai teladan untuk menegur ‘kesombongan’ iman murid-murid-Nya.

Ketika mendengar hal yang dipertengkarkan oleh mereka dalam perjalanan ke kota Kapernaum mengenai siapakah sebenarnya yang terbesar di antara para murid-Nya, Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Sambil memeluk anak itu Yesus memperingati murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3-4)

Kitab Ibrani menerangkan definisi iman dengan jelas sekali: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1) Di antara ayat-ayat lainnya, yang menguraikan dengan terperinci sekali arti iman menggunakan tokoh-tokoh Alkitab sebagai contoh-contohnya, tertulis di sana syarat terpenting bagi setiap orang untuk bisa menjadi pengikut Kristus: "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:6a) Padahal menurut surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus jelas dikatakan, bahwa keselamatan dan iman adalah karunia yang berasal dari Tuhan: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, ..." (Efesus 2:8)

Iman selalu berhubungan dengan kemuliaan Tuhan dan kebenaran firman-Nya. Ia selalu berpusat pada Yesus serta ajaran-ajaran-Nya. Karena orang-orang yang beriman akan selalu membaca Alkitab, berusaha mendengarkan suara Tuhan, mengetahui rencana-rencana-Nya bagi kehidupan mereka, dan yang paling penting, bersedia untuk melakukan perintah-perintah-Nya!

Iman adalah percaya, bahwa Yesus datang sebagai Juruselamat dunia, disalibkan, mati dan dikuburkan untuk menebus dosa-dosa kita! Pada hari yang ketiga Ia bangkit kembali, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan pada saat mendatang yang sudah ditentukan oleh Bapa di sorga, Ia akan turun kembali ke dunia untuk menghakimi setiap orang yang hidup dan yang telah mati.

Iman adalah percaya, bahwa orang-orang yang beriman kepada Yesus juga akan bangkit di akhir zaman, karena Ia sudah mengalahkan maut untuk selama-lamanya. (1 Korintus 15:55-57)

Iman adalah percaya, bahwa bersama Yesus kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa bagi kebesaran kerajaan Tuhan, menjadi pelita yang bersinar terang bagi-Nya di tengah-tengah kegelapan yang sedang mencekam dunia ini, meraih dan memberikan harapan kepada orang-orang lain yang sudah tidak mempunyai harapan lagi.

Kesimpulannya: Iman adalah percaya kepada Tuhan dan percaya pada kebenaran firman-Nya! Dan bukan: Percaya kepada iman, atau: Percaya, karena beriman kepada iman! Definisi yang keliru tersebut sudah menyebabkan pengertian kata ‘iman’ akhir-akhir ini disimpang-siurkan oleh orang-orang di kalangan tubuh Kristus sendiri.

Yesus ingin agar kita mempunyai iman seperti anak-anak kecil yang mau menerima kebenaran firman Tuhan tanpa menggunakan logika-logika dunia yang selalu menuntut bukti-buktinya terlebih dahulu. Jelas yang dimaksud terbesar di sorga oleh Tuhan Yesus di Matius 18:1-5 bukan anak-anak kecilnya, tetapi iman mereka, yang masih diliputi oleh kemurnian hati dan kesederhanaan pikiran yang belum terkontaminasi oleh illah-illah masa kini. Ia berkata, bahwa kita akan menjadi besar, bahkan terbesar di sorga, jika kita mempunyai iman seperti anak-anak kecil tersebut.
(JA)
Nv2k8
[rayluck]

Selengkapnya...

Allah Membuat Kami Berani

Kisah Dari Negeri Bangladesh.

Sekelompok kecil orang percaya berjalan menuju bagian dalam hutan-hutan Bangladesh mencari tempat berteduh, beristirahat. Beberapa dari mereka berdarah-darah, lebam dan kelaparan. Banyak dari mereka diserang dan diusir keluarga dari desa-desa mereka. Mereka telah kehilangan segalanya, walaupun demikian mereka menemukan lebih banyak sukacita dan hidup kekal dalam kristus. Ketika orang-orang percaya yang berani ini melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri, suatu jaringan orang-orang Kristen Bangladesh secara diam-diam mencari mereka dan membawa mereka ke tempat pengungsian yang aman dimana mereka ke tempat pengungsian yang aman dimana mereka mendapatkan pengobatan, istirahat, kelas Alkitab dan mungkin pelatihan-pelatihan. Setelah beberapa bulan, orang-orang percaya ini akan kembali ke daerah-daerah yang menentang Kekristenan, disegarkan dan siap untuk menjangkau yang terhilang bagi Yesus.

KDP pergi mengunjungi orang-orang Kristen seperti mereka dalam persembunyiannya, untuk menguatkan dan mencari cara baru untuk menolong mereka. Kami mendengar saat mereka menceritakan kisah mereka dan kami dikuatkan saat salah seorang dari mereka mengatakan kepada kami, "Allah membuat kami berani." Sekarang kami membagikan kisah mereka dengan Anda.

Di Dalam Dekapan Yesus

Kami duduk bersama "Aban" dan "Momina" di kursi plastik putih, sebuah kipas menghembuskan angin di dalam ruangan yang panas mencekik. Anak-anak mereka menunggu dekat mereka, memerhatikan kami dengan mata mereka yang lebar kecoklatan. Aban berbicara dengan suara yang pelan, menceritakan bagaimana ia menemukan Yesus.

Aban mengalami kekosongan yang lama di dalam iman "Agama lainnya",

tetapi ia tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan itu sampai suatu hari ketika seorang pemberita kabar sukacita memberikan kepadanya sebuah buku yang berjudul "Domba Yang Hilang." Buku itu bercerita mengenai bagaimana Allah sang Bapa mencari dombaNya yang hilang, orang-orang "Agama lain". Gambaran Allah sang Gembala berjalan melalui tempat-tempat yang sepi dan mencari seekor domba yang hilang, terngiang dalam pikiran Aban. Ia dengan sepenuh hati mempersembahkan hidupnya kepada Kristus.

Keluarga besar Aban menghina imannya dan mencapnya "kambing hitam," yang telah mengotori keputihan atau kesucian dedikasi keluarga pada "Agama lain". Ketika ditanya mengapa seorang "Agama lain" sebaiknya menjadi Kristen, Aban menjawab, "Sebagai orang Kristen kamu mungkin mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi itu sebanding dengan keselamatan jiwamu." Selama ia berkhotbah, banyak orang-orang menerima Kristus. Walaupun demikian tidak semua mau mendengarkan Injil – Aban telah diusir keluar dari desa-desa sebanyak 22 kali di waktu yang berbeda.

Walaupun istri Aban yang "Agama lain" untuk sementara menerima iman barunya, tetapi akhirnya istrinya menyerah karena tekanan dari teman-teman dan keluarga untuk kembali kepada "Agama lain" dan menceraikan Aban. Aban tetap setia kepada panggilannya, mengunjungi dari satu desa ke desa yang lain. Ia selalu bertanya kepada setiap orang yang ia temui, "Pernahkah kamu mendengar mengenai Yesus … Seorang yang berkuasa? Kita dapat menemukanNya di dalam kitab suci kita. Jika kamu bersedia, aku akan meneruskan dan menceritakan lebih lagi tentang Dia." Ia menceritakan pengalaman pribadinya bersama Kristus dan membagikan buku-buku, traktat-traktat dan Alkitab.

Seorang yang menerima buku dari Aban adalah Momina. Sekarang, Momina adalah istri Aban, ia menceritakan kepada kami bagaimana sebagai seorang gadis muda, ia telah memperoleh semua hal yang ia butuhkan: seorang suami, keluarga yang indah dan pekerjaan yang menjanjikan. Aban bertemu dengannya tepat setelah kehidupan bagaianya berantakan.

Aban melihat Momina, sedang menangis di rumah. Sambil meneteskan air mata, Momina berkata kepadanya, "Ayahku sedang sakit dan suamiku menceraikan aku. Bagaimana aku dapat bertahan?" Aban menawarkan kepadanya sebuah Alkitab.

Momina dengan segera menerima Alkitab tersebut, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengikut Kristus. Beberapa anggota keluarga dan teman marah. Mereka mulai menanyakan mengapa keluarganya masih terus memberi "orang murtad ini" tempat untuk tinggal.

Suatu hari ketika Momina bermain-main dengan anak perempuannya yang berumur 8 tahun di teras rumah, saudara laki-lakinya menghampirinya dalam keadaan naik pitam, menyerangnya berkali-kali dengan tongkat bambu yang tebal, mematahkan tulang rusuknya. Anak perempuannya terlempar dari pelukannya saat ia jatuh pingsan. Momina tersentak bangun oleh dinginnya siraman air di wajahnya dan lebih banyak pukulan. Sepupunya memukulinya dnegan sebuah tongkat. "Kami mendidikmu," katanya. "Kamu punya otak dan pikiran. Lalu mengapa kamu pergi dan menjadi orang Kristen? Kamu perempuan jalang."

Selama satu bulan kemudian saat Momina terbaring memulihkan kondisinya, polisi desa mengunjungi kedua orang tuanya. "Kamu harus melakukan sesuatu mengenai anak perempuan Kristenmu," kata mereka. "Jika kamu tidak bertindak, kami akan memenjarakanmu dan menyiksamu." Para tetangga menyarankan kedua orang tuanya untuk meracuni Momina hingga mati.

Menghadapi tekanan dari semua pihak, kedua orang tuanya mengusirnya keluar dari rumah, bersama dengan anak perempuannya dan anak perempuan adobsinya yang berumur 3 tahun. Ketika ia pergi, saudara-saudara laki-lakinya memperingatkan dia, "Kami tidak mengijinkan kamu kembali lagi ke sini. Jika kamu masih tertahan, kami akan menyerangmu, dan meracunimu dan kamu akan mati."

Dengan tidak ada seorangpun yang dapat menjadi tempat curahan hatinya, ia meminta Aban jika Aban mau menikahinya dan menjaganya dan kedua anak perempuannya. Aban setuju dan mereka menjadi sebuah keluarga. Allah mulai menganyam dua individu yang terbuang ini menjadi satu permadani yang indah dipandang.

Kearna banyak orang tahu bahwa Aban adalah seorang penginjil, mereka terus berpindah dari satu desa ke desa lainnya karena kemarahan orang-orang. Di suatu tempat dimana mereka tinggal, sang tuan tanah mengacungkan golok dan berkata kepada Momina, "Jika kamu tidak pergi, aku akan mencincang tubuhmu dan membuangnya ke selokan." Kemudian, ketika Momina mengunjungi kedua orang tuanya, orang-orang desa yang marah membakar rumah mereka.

Sekarang Aban, sang gembala sedang mencari domba yang hilang, bepergian ke berbagai desa membagikan Firman Tuhan. Ketika kedua anak perempuan Momina merindukan ayah mereka, Momina menghibur mereka, dengan berkata, "Kita mengasihi Yesus, oleh karena itu ayah kalian pergi memberitakan kepada orang lain untuk mengasihi Yesus." Kadang-kadang, Momina berpegian bersama Aban, membawa anak-anak perempuannya. Ketika Aban bersaksi dengan yang priba, Momina bersaksi kepada yang wanita.

Ketika kami sedang berbicara degnan Aban dan Momina, Momina duduk tidak tenang di kursinya. Ia masih merasakan sakit pada tulang rusuknya yang retak, yang mana tidak ana pernah pulih setelah penyerangan yang dia alami empat tahun yang lalu. Kami berdoa bersama dengannya, dan ia dalam perawatan seorang dokter Kristen. Kami juga sedang membantu Aban dan Momina membeli sepetak tanah yang mana diatasnya akan didirikan sebuah rumah sederhana. Kedua roang ini, yang sangat menderita karena mengikut Kristus, mempunyai kasih yang tulus bagi mereka yang menyakiti mereka dan hasrat yang membara untuk mempersaksikan injil pada orang-orang di negara mereka. Ketika Momina berkata kepada kami, "Allah membuat kami berani. Yesus telah banyak menderita, maka aku juga perlu menderita di dalam hidup ini."


Source:
The Voice Of The Martyrs
Kasih Dalam Perbuatan Edisi Maret - April 2008
Founder: Richard Wurmbrand


Selengkapnya...

Mengapa Tuhan Memberikan Kita Masalah?

Mengapa Tuhan Memberikan Kita Masalah ?
Ditulis pada Rabu, 30 April, 2008 oleh saatteduh
Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari
masalah-masalah tersebut. Ada lima cara Tuhan menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan kita untuk menjadi sesuatu kebaikan bagi kita:
1. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita. Kadang-kadang Tuhan harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Tuhan pakai untuk

menarik perhatian kita.
2. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGUJI kita. Manusia bagaikan teh celup… jika anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Tuhan kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (Yakobus 1:2-3).
3. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita. Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan. Mungkin waktu kita masih kecil orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita terbakar. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu… kesehatan, teman, hubungan…, saat kita sudah kehilangan. "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan -Mu." (Mazmur 119:71).
4. Tuhan menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita. Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang Kristen yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara,karena setahun kemudian tindakan boss itu terbongkar. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…" (Kejadian 50:20).
5. Tuhan menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita. Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Tuhan lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Tuhan yang akan kita bawa sampai kekal. " … Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudusyang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:3-4)
(rayluck)


Selengkapnya...